Kemampuan
analytic pada dasarnya adalah
kemampuan untuk mengubah data dari transactional
IT menjadi analytical IT. Salah
satu cara untuk membantu proses Analytic
menjadi lebih mudah dari sederhana adalah dengan menggunakan model. Modeling supply chain menjadi alat penting karena:
a.
Banyaknya elemen yang menyusun dan
mempengaruhi kinerja dari supply chain.
b.
Kita tidak bisa memperkirakan apa yang
akan terjadi di masa mendatang dengan tepat karena banyaknya variabel yang
terlibat.
c.
Ketidakmampuan mengatur atau
mengantisipasi keterkaitan antara elemen yang komplek dan variabilitas yang
tinggi berakibat menumpuknya inventory, idle
capacity dan membengkaknya biaya produksi dan transportasi.
Model
akan dibuat sebagai representasi dari suatu organisasi. Karena sesuai dengan
tujuannya untuk melakukan analisis dan membantu proses pengambilan keputusan
maka model dibuat dengan hirarki Strategic,
Tactical, dan Operational. Pada
level strategis dibicarakan masalah long
term decision, deskripsi aggregate,dan
tujuan yang dicapai dari pembuatan model ini adalah meminimalkan total cost dan memaksimalkan total revenue. Pada Tactical Level ini dibuat modeling yang lebih detail seperti
menentukan inventory level, mengetahui deskripsi aggregate dari satu keluarga produk, dan tujuannya adalah untuk
meminimalkan biaya inventory untuk suatuperiode tertentu. Sedangkan yang
dilakukan dalam Operational Level adalah
hal yang sangat mendetail seperti berbicara short
term decision dan item level
marketing.
Secara
umum modeling dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, Mathematical Programming, yaitu dengan cara membuat persamaan
matematis dari sistem yang akan dimodelkan. Kedua, Simulasi Komputer, yaitu
dengan menggambarkan behavior
interaksi anatar sistem yang terlibat. Dan ketiga yaitu Search Algorithm, yaitu
mencoba secara sistematis kemungkinan solusi yang optimal, misalnya dengan
menggunakan software iLog.
MERANCANG
END-TO-END SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
Terdapat
empat pendekatan dalam melakukan desain supply
chain management, yaitu dengan membuat proses bisnis sendiri, bantuan
konsultan, buku, dan perangkat lunak (software).
Gartner Group yang merupakan sebuah lembaga riset di Amerika Serikat
mendefinisikan lima kapabilitas yang penting yang harus terdapat dalam suatu
organisasi supply chain, yaitu
manajemen proses bisnis (business process
management), jarak penglihatan (visibility),
pemantauan aktivitas bisnis (business
activity monitoring), analisis (analytic),
dan optimasi (optimization).
MERANCANG
ORGANISASI SCM
Prinsip-prinsip
perancangan organisasi Supply chain
adalah sebagai berikut:
1.
Bentuk mengikuti fungsi. Langkah-langkah
yang dapat dipakai dalam merancang organisasi dengan menggunakan prinsip ini
adalah:
·
Lupakan struktur organisasi yang ada
saat ini, saatnya berkonsentrasi kepada proses suplly chain utama.
·
Kelompokkan kegiatan-kegiatan utama.
Selanjutnya, analisis apa masukan (input) dan keluaran (output) dari
kegiatan-kegiatan tersebut.
·
Tetapkan orang yang bertanggung jawab
untuk melaksanakan proses plan, source,
make, deliver, dan return.
·
Tarik garis di sekitar kelompok-kelompok
yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pelaksanaan, hilangkan batas-batas yang
ada diantara fungsi-fungsi itu, dekatkan ketrampilan-ketrampilan yang saling
melengkapi.
·
Selanjutnya, ciptakan struktur
organisasi baru.
2.
Peran dan tanggung jawab yang jelas
lebih penting daripada struktur.
3.
Informasi yang mengalir dengan mulus
kepada pengambil keputusan adalah kritikal.
4.
Alat ukur kinerja SCM harus mendukung
proses “end-to-end” supply chain.
5.
Memahami bahwa apapun bentuk organisasi,
kunci sukses perancangan adalah memahami kebutuhan akan ”global-local optima” dan melakukan apa yang diperlukan untuk
mencapai hal tersebut.
6.
Sejalan dengan poin 5, 5pahami,
kembangkan dan jaga kemampuan inti perusahaan.
7.
Lakukan pengaturan disekitar ketrampilan
yang Anda butuhkan, bukan ketrampilan yang Anda miliki.
No comments:
Post a Comment